Tahapan ini diawali dengan latihan jadi entrepreneur melalui analisis empat kriteria utama. Hal itu mencakup solusi masalah, target pasar, kompetitor, serta keunikan produk.
Santri lalu menyusun tahapan kerja, perencanaan modal, hingga membuat prototipe. Pembelajaran ini juga melatih mental santri saat menghadapi kegagalan proses.
“Rata-rata kegagalan mereka antara 3-4 kali,” ungkap Teguh.
Salah satu santri kelas 8A, Narotun Nadin Aulia, membuat stiker penanda barang. Produk ini dijual seharga Rp500 hingga Rp3.000 per lembar.
“Tanggapannya ya asyik, enak banget, bisa melatih kita jadi penjual,” ujar Nadin.
Pengasuh Ponpes Entrepreneur Ar-Ridwan Wonosobo KH Abdullah Maksum Al-Hafidz turut mengapresiasi kegiatan ini. Menurut Gus Maksum, santri perlu memiliki kemandirian ekonomi.
“Sebetulnya latar belakang kami itu memberikan ruang gerak yang luas kepada para santri,” tutur Gus Maksum.
Penulis : A. Nandar
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya







