14 Sep 2026
instagram youtube tiktok linkedin pinterest

14 Sep 2026

Jumlah Pesantren Naik, Santri Menyusut, Kemenag Soroti Kelemahan Manajemen dan Data

- Penulis

Rabu, 10 Desember 2025 - 06:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Halaqah Pesantren bertema Revitalisasi Pendidikan Karakter Pesantren yang digelar di Hotel Dafam Wonosobo, Senin (8/12/2025).

i

Halaqah Pesantren bertema Revitalisasi Pendidikan Karakter Pesantren yang digelar di Hotel Dafam Wonosobo, Senin (8/12/2025).

WONOSOBO – Dunia pendidikan pesantren sedang menghadapi situasi unik. Jumlah santri terus turun, tetapi jumlah pondok pesantren justru meningkat tajam. Fenomena itu mengemuka dalam Halaqah Pesantren bertema Revitalisasi Pendidikan Karakter Pesantren yang digelar di Hotel Dafam Wonosobo, Senin (8/12/2025).

Data yang dipaparkan menunjukkan pergeseran signifikan. Jumlah santri yang pada 2023 mencapai 1,7 juta berkurang menjadi 900 ribu pada 2025. Dalam waktu yang sama, jumlah pesantren bertambah dari 3.200 menjadi 5.300 lembaga.

Baca Juga:  Truk Muatan Baja Terjun Jurang di Jalur Parakan - Wonosobo, Dua Nyawa Melayang

Ali Anshori, Kanwil Kemenag Jawa Tengah menyampaikan bahwa pertumbuhan jumlah lembaga tidak berjalan seirama dengan minat masyarakat untuk mondok. Meski begitu, jumlah TPQ meningkat dari 28 ribu menjadi 42 ribu dalam dua tahun terakhir.

“Ada kelompok-kelompok yang tidak senang jika pesantren berkembang besar. Padahal perhatian pemerintah kepada pesantren sangat besar,” kata Ali.

Ali juga menegaskan bahwa negara kini memberikan pengakuan lebih kuat kepada pesantren. Mulai dari penetapan Hari Santri hingga lahirnya UU Pesantren. Ia menambahkan, persoalan mengenai ijazah pesantren tidak lagi menjadi hambatan seperti beberapa tahun sebelumnya.

Baca Juga:  PKB dan Gusdurian Wonosobo Tasyakuran Gelar Pahlawan Gus Dur dan Syaikhona Kholil

Penelitian RMI juga mencatat penurunan jumlah santri periode 2005-2010 dipengaruhi tuntutan kelas menengah terhadap kebersihan dan fasilitas, yang kemudian mendorong banyak pesantren berbenah.

Dari sisi lain, Kepala Kemenag Wonosobo, Panut, menyoroti masalah administratif yang masih menjadi kendala banyak pesantren. Ia menyebut banyak lembaga belum siap mengikuti kebijakan pemerintah, terutama terkait pendataan Emis.

Editor : A. Nandar

Follow WhatsApp Channel wonosobo.diengpost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

PKB Wonosobo Regenerasi Kepengurusan, Ketua DPAC Dibatasi Maksimal 35 Tahun
Cegah Warga Jadi Korban TPPO, Imigrasi Wonosobo Bentuk 4 Desa Binaan
Latih Kemandirian, Santri Ponpes Entrepreneur Ar-Ridwan Wonosobo Unjuk Inovasi Produk
Capai Akreditasi Unggul, Unsiq Jateng Wisuda 928 Lulusan di Wonosobo
Kebakaran Rumah Warga Kalikuto Kertek Diduga Dipicu Korsleting Listrik
Berbekal KIP-K, Anak Pembuat Marning Jagung Asal Wonosobo Raih Wisudawan Terbaik UIN Walisongo
Polsek Sapuran Ringkus Pelaku Begal Payudara di Jalur Kalibawang Wonosobo
Patroli Tim URC Polres Wonosobo Intensif Cegah Kejahatan Jalanan

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 08:53 WIB

PKB Wonosobo Regenerasi Kepengurusan, Ketua DPAC Dibatasi Maksimal 35 Tahun

Senin, 14 September 2026 - 08:52 WIB

Cegah Warga Jadi Korban TPPO, Imigrasi Wonosobo Bentuk 4 Desa Binaan

Kamis, 3 September 2026 - 07:12 WIB

Latih Kemandirian, Santri Ponpes Entrepreneur Ar-Ridwan Wonosobo Unjuk Inovasi Produk

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:46 WIB

Capai Akreditasi Unggul, Unsiq Jateng Wisuda 928 Lulusan di Wonosobo

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:03 WIB

Kebakaran Rumah Warga Kalikuto Kertek Diduga Dipicu Korsleting Listrik

Berita Terbaru