“Pekerja migran Indonesia di Jepang mendapatkan perlindungan menyeluruh melalui regulasi ketenagakerjaan setempat, perjanjian antarnegara, serta jaminan BPJS Ketenagakerjaan sejak sebelum berangkat hingga setelah kontrak selesai,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur LPK Bina Mandiri, Doni Khojin, mengungkapkan bahwa lembaganya fokus menyiapkan welder profesional yang siap bekerja di luar negeri, khususnya di sektor perkapalan, migas, dan konstruksi.
“Setiap tahun kami melatih lebih dari 800 peserta, 30 persen di antaranya dari Wonosobo. Pelatihannya berdurasi satu hingga tiga bulan, tergantung bidang keahlian,” ujar Doni.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Doni menambahkan, kebutuhan tenaga welder di luar negeri sangat tinggi, namun minat masyarakat lokal masih tergolong rendah. Padahal, melalui skema government to government (G to G), sebagian besar biaya penempatan telah ditanggung oleh pemerintah.
“Ini peluang besar bagi masyarakat Wonosobo untuk bekerja di luar negeri secara resmi, dengan jaminan perlindungan dan penghasilan layak,” katanya.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Kepala Desa Jlamprang, Kecamatan Leksono, sekaligus penggerak program Desa Migran Emas, Sulaiman. Ia menilai inisiatif ini penting untuk menjawab tantangan besar dunia kerja di tingkat lokal.
“Setiap tahun ada sekitar 2.500 lulusan SMK di Wonosobo, tapi hanya sebagian kecil yang langsung terserap di dunia kerja. Karena itu, penting ada pelatihan lanjutan seperti ini agar mereka punya akses ke peluang kerja luar negeri yang legal dan aman,” ujarnya.
Penulis : A. Nandar
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















