WONOSOBO – Dunia pendidikan pesantren sedang menghadapi situasi unik. Jumlah santri terus turun, tetapi jumlah pondok pesantren justru meningkat tajam. Fenomena itu mengemuka dalam Halaqah Pesantren bertema Revitalisasi Pendidikan Karakter Pesantren yang digelar di Hotel Dafam Wonosobo, Senin (8/12/2025).
Data yang dipaparkan menunjukkan pergeseran signifikan. Jumlah santri yang pada 2023 mencapai 1,7 juta berkurang menjadi 900 ribu pada 2025. Dalam waktu yang sama, jumlah pesantren bertambah dari 3.200 menjadi 5.300 lembaga.
Ali Anshori, Kanwil Kemenag Jawa Tengah menyampaikan bahwa pertumbuhan jumlah lembaga tidak berjalan seirama dengan minat masyarakat untuk mondok. Meski begitu, jumlah TPQ meningkat dari 28 ribu menjadi 42 ribu dalam dua tahun terakhir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ada kelompok-kelompok yang tidak senang jika pesantren berkembang besar. Padahal perhatian pemerintah kepada pesantren sangat besar,” kata Ali.
Ali juga menegaskan bahwa negara kini memberikan pengakuan lebih kuat kepada pesantren. Mulai dari penetapan Hari Santri hingga lahirnya UU Pesantren. Ia menambahkan, persoalan mengenai ijazah pesantren tidak lagi menjadi hambatan seperti beberapa tahun sebelumnya.
Penelitian RMI juga mencatat penurunan jumlah santri periode 2005-2010 dipengaruhi tuntutan kelas menengah terhadap kebersihan dan fasilitas, yang kemudian mendorong banyak pesantren berbenah.
Dari sisi lain, Kepala Kemenag Wonosobo, Panut, menyoroti masalah administratif yang masih menjadi kendala banyak pesantren. Ia menyebut banyak lembaga belum siap mengikuti kebijakan pemerintah, terutama terkait pendataan Emis.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 Selanjutnya

















