Sigit juga menekankan pentingnya membangun kesadaran diri, kejujuran, dan kemampuan mengendalikan hawa nafsu sebagai bagian dari pengamalan nilai Pancasila. Menurutnya, kemerdekaan sejati tidak hanya berarti bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari egoisme, keserakahan, dan kepentingan sempit.
Sementara itu, Pendiri Komunitas Bale Guna sekaligus Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Wonosobo, Eka Gunadi, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi sosial saat ini ketika Pancasila kerap hanya hadir sebagai slogan tanpa diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
“Ini adalah refleksi dari teman-teman Bale Guna atas keprihatinan kondisi saat ini. Pancasila jangan hanya menjadi idiom-idiom, tetapi harus hidup dalam perilaku. Seni menjadi salah satu cara untuk menyampaikan nilai-nilai itu secara halus dan menyentuh,” katanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Eka menilai konsistensi Kiai Kanjeng selama puluhan tahun membuktikan kesenian mampu menjadi media komunikasi yang efektif untuk menyampaikan pesan moral, kemanusiaan, dan kebangsaan. Ia juga mengajak masyarakat menjadikan Pancasila sebagai sarana refleksi diri, bukan alat untuk menyalahkan pihak lain.
“Pancasila harus menjadi pusaka. Bukan pedang untuk menghantam orang lain, tetapi pusaka untuk mengiris dada kita sendiri, merefleksikan diri kita sendiri. Jangan sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi bertanya apa kontribusi dan tanggung jawab kita terhadap keadaan bangsa hari ini,” ujarnya.
Menurut Eka, berbagai persoalan bangsa harus menjadi momentum membangun kesadaran kolektif. Ia menegaskan Pancasila bukan sekadar warisan masa lalu yang diperingati setiap tahun, tetapi kompas moral untuk menghadapi tantangan masa depan.
Rangkaian kegiatan diisi dengan pertunjukan seni budaya dari seniman lokal dan penampilan Kiai Kanjeng yang menghadirkan pesan kebangsaan, spiritualitas, serta persatuan di tengah masyarakat.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2

















