“Uangnya dikumpulkan di rumah, kalau jualan kadang dapat 200, kadang 100, kadang 50 ribu, kadang 15 ribu. Saya jualan berangkat jam setengah 2 dini hari sampai menjelang subuh,” ujarnya.
Perjuangan Painah tidak berhenti setelah pulang dari pasar. Ia masih melanjutkan aktivitas dengan menitipkan daun pisangnya ke sejumlah warung hingga siang hari. Jika dulu ia mengambil stok dari pengepul, kini ia mulai menikmati hasil dari tanaman pisang yang ditanam dan dirawat sendiri di kebunnya.
Empat belas tahun menunggu antrean keberangkatan bukan waktu yang singkat. Di tengah penantian itu, Painah menyimpan kekhawatiran sederhana, apakah dirinya masih diberi umur dan kesempatan untuk memenuhi panggilan suci tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau saya gitu, dapat kesempatan apa tidak gitu.. kalau saya tidak dapat kesempatan, sudah meninggal ya uangnya ambil gitu karena kan susah mengumpulkannya, kalau saya tidak mendapatkan kesempatan ya uangnya bisa untuk merawat saya.. kalau saya masih dapat kesempatan ya alhamdulillah saya ikut berangkat,” tutur Painah.
Kini, penantian panjang itu akhirnya berbuah kebahagiaan. Jumat malam mendatang, Painah akan berangkat menuju Tanah Suci dengan membawa bukan hanya koper dan perlengkapan ibadah, tetapi juga kisah perjuangan yang tumbuh dari setiap lembar daun pisang yang selama ini menjadi saksi kerja keras dan doanya.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2

















