Menanggapi isu adanya wartawan yang dinilai meresahkan hingga ke desa-desa, Kholik menegaskan hal tersebut tidak mencerminkan kondisi umum pers di Wonosobo. Jika pun ada persoalan, menurutnya itu bersifat individual dan tidak bisa digeneralisasi.
Ia menekankan pentingnya membedakan jurnalis profesional yang bekerja sesuai kode etik dengan pihak-pihak yang hanya mengatasnamakan wartawan untuk kepentingan lain.
“Saya melihat di Wonosobo, tidak ada ya, tidak ada. Dan seumpama ada itu oknum saja, oknum saja. Karena sebenarnya fenomena yang ada itu kan lebih kepada menggunakan baju, menggunakan baju jurnalis, tetapi tujuannya untuk kepentingan yang lain,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Ketua Komunitas Jurnalis Wonosobo (KJW) Agus Supriyadi menegaskan pentingnya profesionalisme dalam kerja jurnalistik. Menurutnya, setiap wartawan wajib menjunjung tinggi kode etik jurnalistik sebagai dasar dalam menjalankan tugas peliputan.
Agus menyebut, dalam dunia jurnalistik terdapat jenjang kompetensi yang menjadi standar profesionalisme. Di KJW sendiri, ia memastikan seluruh anggota bekerja sesuai kode etik dan tidak melakukan praktik-praktik yang merugikan pihak lain.
“Wartawan itu memiliki kode etik jurnalistik yang wajib dijunjung tinggi, tidak dibenarkan melakukan pemerasan atau tindakan yang merugikan pihak mana pun. Dalam profesi jurnalistik juga ada jenjang kompetensi yang jelas sebagai standar profesionalisme,” jelas Agus.
Agus menegaskan, pihaknya tidak mentolerir tindakan pemerasan atau penyalahgunaan profesi wartawan. Ia menyatakan, jika ada pihak yang bertindak mencurigakan dengan mengatasnamakan wartawan, dapat dipastikan tidak berasal dari KJW.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

















