“Perjalanan kita masih panjang. Untuk mencapai Ending AIDS 2030, kita harus bekerja keras mewujudkan Tiga Nol, Nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma serta diskriminasi,” tegas Afif.
Salah satu hambatan terbesar menurutnya adalah stigma dan diskriminasi, yang menyebabkan banyak orang menunda pemeriksaan karena takut penolakan sosial. Afif menyoroti pentingnya peran sektor pendidikan dan keagamaan dalam memberikan edukasi dan pendampingan, terutama kepada remaja.
“Remaja adalah kelompok yang rentan. Guru BK memiliki peran strategis sebagai sahabat dan pelindung siswa. Pendidikan yang benar dan pendampingan yang hangat akan membantu mereka terhindar dari perilaku berisiko,” jelas Afif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan Sulat, memaparkan bahwa seminar ini dirancang untuk memperkuat pemahaman masyarakat dan dukungan pemangku kebijakan terhadap upaya penanggulangan HIV di daerah.
Ia menegaskan pentingnya penguatan kapasitas guru BK sebagai garda depan pendampingan remaja.
“Seminar menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Ikatan Psikologi Indonesia Wilayah Jawa Tengah, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Wonosobo dan PT Geo Dipa Energi Unit Dieng. Adapun materi yang disampaikan meliputi Analisis Situasi Program HIV di Kabupaten Wonosobo, Kenali dan Cegah HIV, Guru BK sebagai Sahabat Remaja dalam Pencegahan HIV dan Edukasi Geothermal,” papar Jaelan.
Menurut Jaelan, kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, fasilitas kesehatan, komunitas, dunia pendidikan, dan sektor swasta menjadi faktor utama untuk mempercepat pencapaian Ending AIDS 2030 di Wonosobo.
Editor : A. Nandar
Halaman : 1 2

















